Gadis Lukisan

Kembali ia pandangi lukisan yang baru saja diselesaikannya. Lukisan tentang seorang gadis bergaun putih ala eropa tahun lima puluhan dengan lima tangkai bunga mawar merah segar ditangannya, persis seperti ibu muda yang baru belajar menggendong bayi. Rambutnya yang pirang dan ikal diatur sedemikian rupa sehingga membentuk riak gelombang yang begitu indah seperti air laut yang menggulung ditiup angin menuju pantai dan pecah dihalau karang. Gadis itu tersenyum renyah, sumringah atau apalah istilahnya, yang jelas senyuman yang keluar dari sudut bibir mungilnya begitu manis, begitu….
ah, mungkin dia tidak pernah memikirkan persoalan-persoalan yang dibuat oleh pejabat-pejabat yang seharusnya membela rakyatnya tetapi malah menghancurkannya, atau mungkin dia tidak mau memikirkannya karena sudah bosan melihat tingkah para pejabat itu, atau memang dia tidak pernah tahu tentang semua itu, ya, mungkin saja…. Mata birunya yang bulat bersih tajam menatap siapapun yang mencoba meliriknya dan menjadikan setiap pengagumnya terpaku tak bergeming bagaikan terhujam tombak pasukan romawi. Itulah yag kini dialami oleh sang pelukis, ia terus saja memandangi gadis lukisannya itu tanpa ada rasa jemu, lelah lapar bahakan hauspun tidak. Mungkin ia sudah bosan menertawakan wajah korupsi dinegaranya yang begitu lucu atau lebih tepat disebut mengerikan, persis seperti badut-badut di dunia fantasi atau kebun binatang, bahkan lebih lucu daripada penghuni kebun binatang itu sendiri.

Sampai akhirnya ia terseret arus gelombang aneh menembus angan melewati batas waktu terbang masuk ke dalam lukisannya menuju gadis itu. Sebentar kemudian sampailah ia ke tempat gadis itu yang telah menantinya. Tempat yang lebih tepat disebut taman, ya, taman yang begitu luas penuh dengan bunga beraneka warna yang sedang mekar dan diselingi oleh pepohonan cemara dengan tepian daunnya yang bertingkat-tingkat, serta udaranya yang yang sejuk dingin yang dipenuhi dengan aroma bunga-bunga dan cemara yang khas. Mungkin semacam gagasan tentang taman firdaus yang disana manusia dapat hidup dengan tenang tanpa hingar bingar kekerasan atau yang semacamnya.

Tangan halus gadis itu menyambutnya dengan sangat hangat dan membawanya berjalan diantara bunga-bunga, silih bergantian melewati terang dan bayangan pohon cemara. Dan ia merasa persis seperti waktu masih kanak-kanak, ia senang berlarian mengejar kupu-kupu hanya sekedar untuk dipegangnya sesaat dan kemudian dilepaskannya kembali lalu mencari kupu-kupu yang lainnya dan terus begitu sampai ia merasa lelah, kemudian ia membungkukkan badannya dalam-dalam dan membiarkan kepalanya terayun mengamati dunia sekitarnya secara terbalik diantara kedua pergelangan kakinya. Pada saat itu segalanya terasa begitu luas dan terbuka, langit terbentang dan angin bertiup menyelusup melalui dedaunan menyibakkan rambutnya dan menggoyangkan bunga-bunga sehingga terangguk-angguk pada tangkainya.

Gadis itu membawanya terbang di atas hamparan bunga-bunga menyelinap diantara dedaunan cemara memutarinya dan bahkan sampai dipuncaknya. Sebuah tiupan angin menggoyang puncak-puncak cemara, seolah ingin mengajak cemara-cemara itu untuk melakukan gerakan dansa. Gadis itu kembali membawanya terbang, jauh melewati pegunungan, lautan, bahkan hutan rimba. Entah kemana ia akan dibawa, ia tidak akan pernah bertanya karena ia yakin gadis itu akan membawanya ke tempat yang indah, damai, dan tenang yang di sana ia lebih dapat berkonsentrasi ketika melukis atau hanya untuk menghabiskan sisa umurnya. Dan ketika mereka melintas di atas sebuah tempat yang sangat jauh dari galaksi bima sakti, gadis itu membawanya turun dan berhenti di sana. Tempat itu tampak seperti bumi, namun lebih biru, bersih, rapi, dan sangat sunyi. Mungkin seperti gambaran bumi ketika masih dihuni oleh malaikat.
Sepi, ya, sangat sunyi, sehingga suara kepakan sayap kupu-kupu yang sedang terbang kian kemari tidak beraturan begitu jelas terdengar. Sejak pertama mereka menemukan tempat itu, seterusnya mereka duduk di situ sepanjang waktu. Mereka banyak bercanda dan bercerita tentang apa saja yang terlintas dalam benak mereka. Dan ketika mereka terdiam karena kehabisan cerita, mereka hanya duduk sambil mengamati pohon-pohon pinus yang bergoyang dengan mengeluarkan suara berderit-derit ketika dahan-dahan mereka saling bersentuhan dan dedaunannya yang seperti rambut lurus seorang anak yang tertiup angin, mengamati burung-burung kecil yang bercanda dengan angin, mengamati sepasang merpati tua putih kecokelatan yang begitu asyik bergurau dengan suara dengkuran penuh nafsu.

Ia lalu merebahkan tubuh dan kepalanya dipangkuan gadis itu, samar-samar memandangi langit melalui matanya yang setengah terpejam. Kadang-kadang gadis itu melakukan gerkan-gerakan kecil, tawa atau pekikan berusaha menarik perhatiannya secara tiba-tiba memecahkan segenap keheningan itu. Sebuah hembusan angin yang sangat lembut menyelusup melalui celananya, bergulung dibalik pakaiannya, ia bisa merasakan hembusan angin itu mengeleser begitu lembut di atas perutnya, sedemikian halus seakan-akan ia sekadar merasakannya di dalam hati, namun mampu memaksa matanya untuk terpejam, dan ia tidak mampu lagi menolaknya hingga akhirnya ia benar-benar terlelap dipangkuan gadis itu.

Setetes air hujan menerpa wajahnya dan diikuti oleh tetesan-tetesan berikutnya yang berkejaran seolah ingin cepat-cepat menggapai tanah, membuatnya terlepas dari lelap tidurnya. Matanya langsung menangkap ada hal yang aneh yang tengah terjadi, gadis itu…..ya, gadis itu menghilang. Dengan panik dan tidak tahu harus mencari ke mana ditempat yang sangat asing baginya itu, ia berjalan menelusuri tanah-tanah becek berlumpur, taman-taman bunga yang basah, hutan pinus yang gelap, dan lembah serta tebing yang licin dan curam. Air hujan yang terus saja berjatuhan seperti ditumpahkan dari langit tidak dapat mencegahnya untuk berhenti walau sedetik pun. Tiupan angin pun kini tidak lagi lembut, bergulung-gulung menghempaskan apapun yang dilaluinya, mematahkan dahan-dahan pohon pinus yang tegap berdiri menjadikannya seolah-olah sangat rapuh. Ia terus saja berjalan mencari di setiap sudut hutan, di dalam semak belukar, dan di dalam taman-taman bunga, namun ia tidak dapat menemukannya juga. Ia bertanya pada angin, namun mereka hanya diam angkuh sambil terus menggoyangkan daun-daun pinus, ia bertanya pada pohon pinus, tetapi mereka sibuk mengerang meratapi dahan mereka yang patah oleh angin. Lalu ia bertanya pada awan yang bergerombol seperti sebuah kawanan domba di padang rumput yang sangat luas, namun mereka juga hanya diam membisu tanpa menoleh sedikitpun kepadanya yang tengah kelelahan dan menggigil karena menahan dingin. Rasa putus asa perlahan timbul di dalam hatinya. Tiba-tiba ia merasa seluruh tubuhnya lemas bagaikan tidak bersendi, kepalanya pening, matanya berkunang-kunang dan akhirnya ia jatuh terjerembab di tanah becek berlumpur.

Ia tersentak dengan suara petir di luar rumahnya. Dengan pandangan yang penuh makna dan hanya dapat dimengerti olehnya, matanya menatap sesuatu yang seakan pernah ia kenal, itulah gadis lukisannya yang sedang tersenyum memandanginya dengan tatapan yang mampu menimbulkan gejolak di dalam diri. Ia terus memandangi gadis itu tanpa bergeming sedikitpun, dan entah dorongan macam apa yang sedang dihadapinya membuat matanya berkaca-kaca. Dan dengan mata yang basah ia berucap setengah berbisik, “Aku pasti menemukannmu…..”

Jakarta, Februari 2003

Ahmad Satori

Oktober 24, 2008 at 8:47 am 1 komentar


Feeds